Semalam
aku bermimpi, eh atau berkhayal ya? Aku tidak bisa membedakannya. Akhir-akhir
ini aku tidak dapat menikmati tidur ku dengan baik. Beberapa jam sekali
terbangun, menangis, berpikir positif untuk menenangkan diri, tertidur, kembali
terbangun dan seperti itu sampai fajar datang. Semua terjadi karena pikiran
yang tak dapat ku kendalikan.
Mimpi.. yaaa atau khayalan itu lah, aku menikmatinya.
Saat itu aku hanya memeluk mu sambil terisak dan mengatakan “Terima kasih, tak
akan ku ulangi lagi” dan terus memeluk mu erat. Itu seperti nyata, suara berat
mu terdengar nyata. Aku merasa haru pagi ini.
Masalahnya,
semakin aku memikirkannya semakin kacau pikiran ini. Aku tidak bisa membedakan
apakah ini hanya karena kebaikan mu atau memang perasaan mu. Aku bingung dan
resah. Kata “kalau” terus mengiang. “Kalau aku begini nanti dia begitu lagi”
tapi “kalau enggak aku lakuin nanti dia bla bla bla....”
Aku
harus gimana? Aku takut L
Aku begitu percaya diri namun muncul kebingungan apa jangan-jangan kepercayaan
diri itu hanya untuk menutupi kekhawatiran ku saja. Sepertinya yang aku rasa
kepercayaan diri penuh. Oh, Gosh! What should I do??
Aku
begitu ingin meyakinkannya bahwa aku tidak bohong atas penyesalan ku dan
meyakinkannya bahwa perasaannya masih ada dan masih banyak untuk ku. Setidaknya,
aku ingin kita membangun kembali bersama jalan ini, dari nol pun tidak masalah
bagi ku. Asal kita bersama.
Andai
perasaan dan logika mu saling bekerja sama dengan baik atas keputusan ini.
Apa
aku begitu menyakiti mu ya jika kita
bersama? Aku tak sanggup jika itu kebenaran yang akan aku terima. Sungguh, aku
tak mampu.
No comments:
Post a Comment